Selasa, 13 Desember 2016

The Hourglass (Part II)



Saya ingat telah menyebutkan dalam postingan sebelumnya bahwa "geng" kuliah saya, The Hourglass, berjumlah sembilan orang selain saya sendiri. Berhubung kisah mereka belum saya ceritakan sampai tuntas di postingan sebelumnya, saya akan menyambungnya di sini. Jadi, inilah keempat member Hourglass yang tersisa, here we go ;)

6. Randim


Rani, alias Randim, adalah manusia kejam berwajah datar. Dia adalah salah satu bully dalam kelompok kami, hampir selalu menang dalam bully-membully karena kalimatnya yang kejam dan wajahnya yang datar saat melakukan pembully-an tersebut. Korban bully utamanya adalah Ratih (eh, Ratih sih sebenarnya korban bully semua orang). Pertama kali berkenalan dan menanyakan ID Facebook-nya, saya sampai bertanya-tanya dalam hati apakah saya pernah punya salah sama Randim ini. Ndim sama seperti saya dan Sandra, kami penduduk pribumi kota Malang. Saya rasa hal ini membuat kami bertiga memiliki semacam 'ikatan' yang pada akhirnya menyebabkan kami memilih peminatan komunikasi massa. Walaupun kami bertiga sesama pemalas, Ndim satu-satunya orang yang tidak pernah membolos. Alasannya sederhana, dia tidak akan membuang sekian ribu rupiah yang ia gunakan untuk naik angkot dari rumah untuk membolos kuliah.
Terlepas dari cara bicaranya yang bully dan wajahnya yang datar dan kejam, Ndim adalah teman curhat yang menyenangkan dan seorang pendengar yang baik. Semester empat dulu, saat masih bertetangga dengannya dan masih masa pdkt (idih) dengan pacar saya, kerap kali Ndim menjadi korban curcol saya. Hampir setiap hari saat saya mengantarnya pulang, saya curhat berbagai hal padanya, yang pasti berakhir dengan candaan random.
Saya juga termasuk sering berada di kelas yang sama dengan Ndim. Salah satu kelas favorit kami adalah kelas Dasar-dasar Jurnalistik yang kami ambil saat semester dua. Alasannya sederhana, kelas itu memiliki banyak mahasiswa ganteng dari jurusan ilmu komunikasi angkatan kami. Dua dari mereka adalah orang yang kami taksir saat itu (lol).

7. Widya
Ini Widya lagi jadi model produk clothing line saya, pacar saya yang minta tolong dia jadi model ;P
Widya adalah gadis asal Palembang yang entah kenapa selalu menjadi pihak ketiga dari kisah cinta temannya (lol). Hal ini karena, setiap ada member hourglass yang punya pacar, entah kenapa pacarnya pasti akrab dengan Widya. Kasus ini terjadi pada Sukma, Sandra, dan saya. Hingga kami sering menggodanya sebagai tukang makan teman.
Oh iya, cerita di atas sebenarnya bercanda dan Widya cenderung akan ngambek jika kami mengucapkan candaan ini dengannya (lol). Pada dasarnya, Widya adalah orang yang sangat ramah, pendengar yang baik, orang yang sangat senang membantu orang, dan good looking tentunya.
Widya adalah seorang aktivis. Ia sangat aktif di beberapa organisasi fakultas. Hal ini menyebabkan ia memiliki banyak informasi tepat dan akurat seputar perkuliahan sehingga memiliki Widya dalam peer group merupakan berkah untuk kami (yang malas cari info ini). 
Dilema terbesar dalam pertemanan dengan Widya adalah, ia tidak pernah mau dibayar ketika kita berhutang padanya! Baik hutang uang maupun hutang jasa. Akan tetapi, setiap ia berhutang, ia akan kebingunan membayar pada kita walaupun sudah kita ikhlaskan. Awalnya kami senang-senang saja dibebaskan bayar hutang, tapi lama-kelamaan, kami bingung juga kalau harus membiarkannya membayari kami terus-terusan. Wid, maafkan kami yang hina ini!

8. Sukma
Pertama kali bertemu Sukma, rata-rata kami sepakat bahwa kami tidak menyukainya. Ia dulu adalah orang yang sangat straightforward, keras kepala, dan tentunya attention seeker (ampun, Suk!). Benar kata pepatah, masa depan siapa yang tahu, bisa jadi musuh hari ini adalah teman di kemudian hari. Sambil merenungi kalimat ini, tanpa sadar waktu berjalan dan Sukma menjadi bagian dari kami.
Saya pernah suatu ketika, mengaku padanya bahwa saya benar-benar tidak menyukainya. Mungkin maksud saya bukan hate, tetapi dislike. Alasannya, Sukma dulu disukai banyak lelaki, tetapi mereka semua ia beri harapan palsu. Sementara, pada saat itu saya sedang struggling berat mendapatkan cowok yang saya taksir tapi usaha itu berada di ambang kegagalan. Sukma hanya tertawa-tawa mendengar hal ini, tampak tidak ada rasa marah sama sekali.
Mungkin Sukma sudah mati rasa. Ia bukan manusia. 
Meskipun begitu, sejujurnya Sukma merupakan salah satu orang yang banyak menginspirasi saya (duh, malunya bilang gini). Saya senang dengan sikapnya yang jujur dan to the point, lebih dari itu, saya menyukai tulisan-tulisan yang dibuatnya. Sukma banyak membimbing saya pada masa skripsi, ia juga menjadi semacam pembimbing (ha!) dan penyelamat saya selama masa drama LPDP. Sukma lolos beasiswa ini, dan berkat tips-tipsnya, alhamdulillah saya akhirnya berhasil menyusulnya menjadi seorang awardee LPDP.

9. Ratih

Anggota terakhir yang akan saya ceritakan adalah, tidak lain tidak bukan, our beloved Ratih. Terlalu banyak kisah tentang Ratih yang dapat diceritakan. Jika saya harus mendeskripsikan Ratih dengan satu frasa, maka yang paling tepat sudah jelas: korban bully.
Entah kenapa, segala hal tentang Ratih adalah hal yang dapat dijadikan sebagai bahan bully. Mulai dari asal tempat tinggalnya, morfologi hidungnya (ini khusus bully-an dari Randim), obsesinya dengan warna kuning, sifat rajinnya, sifat pelitnya, sikapnya yang dulu sedikit anti-kemapanan, usianya yang sedikit lebih tua dari kami, hingga fakta bahwa ia satu-satunya orang di Hourglass yang tidak memiliki mantan pacar! (siapa yang sangka suatu hari kami bersyukur pernah memiliki hubungan gagal di masa lalu).
Ratih adalah orang yang paling kami hindari ketika ada tugas menulis essay secara individu. Beberapa hari sebelum pengumpulan tugas, ia akan berisik sekali bertanya berapa halaman yang kami tulis. Jika jumlah halaman kami lebih banyak darinya, ia akan kebingungan dan mulai menolak segala ajakan bersenang-senang untuk bersemedi menambah isi essay. Biasanya ini terjadi setelah ia bertanya pada Sukma. By the way, Ratih dan Sukma sering sekali ribut entah kenapa, tetapi besoknya keduanya akan lengket kembali. Benar-benar seperti dua sejoli di masa SMA.
Ratih adalah buah bibir untuk kami semua. Kami membicarakan Ratih di belakangnya, di sampingnya, bahkan di depannya. Pokoknya, kalau suasana sedang awkward, bicarakan Ratih, semua akan menjadi hangat.
Terlepas dari bagaimana perlakukan kami pada Ratih, kami sudah tentu sangat menyayanginya. Tidak akan pekerjaan kami yang beres selama kuliah kalau Ratih tidak mengomel agar kami segera menyelesaikan tugas. Tidak hanya mengomel, ia selalu terbuka ketika kami menumpang di kosannya dan minta bantuan mengerjakan tugas.



***
Ya, begitulah sekilas kisah tentang teman-teman saya yang luar biasa (dalam banyak arti). Saat ini beberapa dari kami telah lulus dan jarang sekali kami berkumpul kembali. Rencana liburan bersama pun banyak yang berakhir sebagai wacana. Saya tipe yang selalu berprinsip tidak ada gunanya menginginkan kejayaan masa lalu karena apa yang ada di depan harus kita usahakan agar lebih baik. Akan tetapi, seandainya ada satu hal dari masa lalu yang boleh saya minta kembali, mungkin itu adalah masa-masa indah yang saya lewatkan bersama Hourglass.

Jangan percaya dengan orang yang mengatakan bahwa masa kuliah itu buruk. Baik-buruk itu relatif tergantung kita bisa bersyukur atau tidak kok :P

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tanya

Pernah suatu ketika, saya dan teman-teman seumuran menumpang mobil seorang Bapak —yang juga teman kami, untuk pulang bersama ke Bandung. D...